Rabu, 23 Juli 2014

Green family, Langkah Sederhana Penghijauan Rumah




Green family, Istilah itu yang mewakili kehidupan keluarga kami dalam pembelajaran tentang lingkungan. Menghargai lingkungan adalah sebuah kewajiban yang memang harus dilakukan setiap orang atau dalam suatu lembanga. Kalau dalam lembaga,komunitas atau organisasi memiliki agenda penghijauan dalam taraf besar berupa kampaye dan terjun di tempat-tempat umum seperti TPA, tempat wisata, taman dll. Ada cara yang sederhana bagi setiap orang atau kelurga melakukan penghijaun yang dapat dilakukan di rumah. Hal ini tidak seberat menciptakan green house dan cara sederhana yang bisa dilakukan di setiap rumah.

  1. Sisakan tanah pekarangan rumah sekian meter tanpa diplester atau dipaving, biarkan dalam bentuk tanah, kalau bisa ditambah dengan tanah subur. Banyak rumah sekarang seluruh halaman dipaving/plester dan tanaman hanya ada dalam pot, padahal tanaman yang tertanam pada sepetak tanah dipekarangan jauh lebih bagus dan tumbuh dengan baik, keculai terbatasnya lahan depan rumah. 
  2. Membudayakan dalam keluarga memelihara tanaman. Bagi ibu saya sorang anak di didik untuk mengetahui perlunya memiliki tanaman di depan rumah dimulai dari kecil. Semua angggota keluarga wajib merawat tanaman di rumah.
  3. Memiliki waktu merawat tanaman yang teratur, bisa dilakukan dengan penjadwalan. Anak-anak dilatih disiplin untuk merawat tanamana.
  4. Ada waktu bersama untuk bertanam di pekarangan. Selain minum teh bersama, bertanam bersama  juga dapat dilakukan anggota keluarga untuk menumbuhkan rasa kebersamaan. Hal ini sudah terjadi dikeluarga kami dari aku masih Sekolah Dasar. Paling seru dilakukan di akhir pekan pagi atau sore hari.  
  5. Tanaman adalah hiburan, itu semacam qoute yang diucapkan oleh ibuku. Beliau menjelaskan memiliki tanaman bukan hal berat dalam merawatnya, karena tanaman itu sendiri juga memberikan manfaat bagi kita. 
  6. Lakukan sekarang, anak-anak suka bermain, orang tua dapat menjadikan ini alternatif. Bagi remaja, pemuda bukan alasan karena sudah dewasa untuk tidak bermain tanah dan tanaman di depan rumah, bukan? 
 Bila semua keluarga melakukan ini, langkah sederhana ini dapat memiliki dampak besar dan berkelanjutan untuk tetap memberikan lahan hijau di setiap rumah. Karena rumah adalah tempat kita tinggal yang disitu kita punya hak paling besar untuk membuatnya lebih cantik dan nyaman. 
Keep Green! Hijau itu Indah.





Sumber gambar:
Cdn.sheknows.com
Desainic.com
Haisente.com

Minggu, 22 Juni 2014

Cerita Jaman SD (Sandal jepit bag.1)



Saya terlahir menjadi anak terakhir dari 5 bersaudara. Di balik cerita namanku, siapapun boleh menamaiku waktu aku dilahirkan. Setelah ditelusuri karena penasaran ternyata benar, nama itu bukan sepenuhnya dari orang tua. Bukan masalah besar juga, yang penting aku terlahir dengan doa dan harapan-harapan terbaik sebagai Adi.

Masa kecil terlewati dengan macam-macam rasa. Hal yang bisa ku ingat, aku hidup di Kedunglosari desa kecil di Jombang yang sekarang tenar karena merupakan tanah kelahiran dan tanah pemakaman Gusdur Presiden kita. Aku hidup dengan kesederhaan. Tapi aku tak teringat di situ ada kakak pertama,kedua, dan ketiga. Hanya ada kakak keempat yang setiap hari bertengkar berebut mainan, bergulat dan jarang akur.

Aku bukan anak yang terlahir dengan jenius memiliki ketrampilan. Terbukti di masa Taman Kanak-kanak tidak satupun guru menunjukku untuk mengikuti lomba. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya di masa TK memiliki keterampilan lebih dan sering tampil. Lomba pindah benderapun aku tak pernah bisa, apalagi harus membaca puisi. Keahlianku paling besar waktu itu adalah makan bakso (pentol) hingga mabok, dan gampang nangis. Ini lelucon yang membuatku sendiri geli membayangkannya. Akupun tak pernah mencicipi bagaimana anak TK terlihat ganteng dan gagah saat mengikuti parade karnaval 17 agustus. Mungkin saat itu masalah terbesarku adalah takut dengan orang dirias (make up), meskipun itu Ibuku tidak akan ku akui selama beliau memakai sanggul dan riasan jawa (maaf Bu, itu dulu bukan sekarang).

Berlalunya waktu saat itu juga membangun pikiran anak Sekolah Dasar yang bernama Adi ini. Sekali lagi aku belum tersadar aku punya kemampuan apapun. Aku mengikuti alur menjadi anak SD yang rajin dan tidak bermasalah. Belajar pelan-pelan, meskipun saat kelas 1 aku belum bisa membaca. Membaca dengan kecepepatan seperti kura-kura berjalan tapi frekuensi suara menggelegar kemana-mana.  Aku selalu bermasalah dapa setiap tugas Pekerjaan Rumah (PR). Saat itu aku berpikir menangis adalah solusi terbaik jika tidak sanggup mengerjakan PR. Menangis sampai subuh pun tidak akan penuh lembar jawabanku, itulah anak kecil memikirkan yang tidak mungkin menjadi mungkin (atau cuma aku saja).

Tapi perjuanganku tidak sia-sia. Aku belajar keras, belajar tanpa perhatian penuh dari orang tua karena mereka sibuk bekerja. Aku menjadi anak SD yang penuh semangat empat lima, walaupun musuh dimana-mana. Dimulai dari posisi peringkat ke-6, 5, 4 dan menjadi peringkat 3 selama kelas 3 sampai kelas 5. Kemudian guru mulai mempercayaiku untuk mengikuti lomba dokter kecil, cerdas cermat meskipun tidak pernah menang di tingkat kecamatan, tapi cukup senang bisa berangkat dan menyenangkan orang tua. Hingga aku lulus menjadi peringkat ke 2 di sekolahku. Aku harus puas dengan posisi itu meskipun tidaK menjadi yang pertama. Setidaknya ibuku bahagia bisa maju ke depan kelas diantara wali murid dan membawa hadiah 4 buku tulis  terbungkus rapi yang diberikan oleh guruku.

Perjuangan masih panjang. Di tempat tinggalku anak lulus SD kemudian bekerja dan putus sekolah masih banyak. Memang kelas 6 berlangsung dengan ketegangan. Saat itu siswa sudah harus dapat menentukan tujuan sekolah menengah pertama dan lulus ujian akhir sekolah. Ini berat, kakak-kakaku yang semuanya merupakan lulusan Madarasah Tsanawiah (SMP Islam) menuntun orang tuaku menyuruhku ke sekolah itu. Selain itu biaya sekolah yang tinggi di sekolah negeri adalah masalah bagi beliau. Aku tidak pernah membantah maupun menyetujui orang tuaku. Aku berpikir bagaimana caranya nilaiku bisa bagus dan dapat memilih sekolah SMP negeri yang menjadi tujuanku. Ingat, aku tidak terlahir sebagai anak jenius tetapi aku terlahir sebagai anak yang harus berjuang keras dan rajin untuk mendapatkan prestasi dan keberuntungan. Waktu itu aku sudah berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin kalau aku belajar. Hingga tiba saatnya harus merasakan sakit karena terforsir belajar, menjadi anak yang kurus tinggi seperti tiang bendera. Semua berbuah manis, aku masuk di SMP N 1 Tembelang di kelas unggulan. SMP N 1 Tembelang adalah SMP kecamatan yang tergolong unggulan selain SMP di pusat kota. Perjuangan pendidikan berlangsung seru di sini.

BERSAMBUNG...
 

Selasa, 17 Juni 2014

Presiden Masa Depan Indonesia



Oleh: Adi Hariyanto, SE

Tepat di tahun 2014 ini Indonesia akan berumur 69 tahun dari kemerdekaan yang terdeklarasi pada Agustus 1945. Perjuangan yang tidak mudah untuk dapat berdiri menjadi bangsa yang merdeka. Sejak saat itu kegiatan memerdekaan bangsa sebenarnya baru dimulai. Memajukan rakyat dengan pendidikan, pembangunan negara, pengentasan kemiskinan bangsa, memartabatkan Indonesia dan menyatukan seluruh seluruh nusantara. Soekarno adalah orang pertama yang betanggungjawab mengendalikan negara ini dan melaksanakan semua hal yang tersebut diatas.

Sekarang, 5 Presiden telah menggantikan Soekarno dari Soeharto di jaman Orde Baru, BJ. Habibi di awal reformasi, Abdulrahaman Wakhid (GUS DUR) yang mengusung toleransi agama dan etnis, Megawati, dan Susilo Bambang Yudoyono. Kebijakan memajukan negara dari 5 presiden yang berbeda juga meninggalkan tanya tentang arah jalan, kemana indonesia ini akan dibawah. Mereka bertanggung jawab atas kepentingan rakyat, dan mereka juga tidak dapat lepas dari tanggungan politik yang membesarkan mereka. Indonesia tidak terbangun secara utuh. Kepentingan-kepetingan kelompok sudah terlihat nyata seiring waktu berjalan yang dibawa oleh masing-masing pemimpin. Baik Buruknya rasanya sudah dirasakan seluruhpendiduduk indonesia.

Pemilihan presiden sudah akan berlangsung untuk mempimpin indonesia 5 tahun ke depan. Rakyat disuguhkan pada calon-calon yang lahir dari dua lingkungan yang berbeda, memiliki misi, memiliki kemampuan besar membawa indonesia. Lantas, Bagaimana Presiden yang diminta oleh rakyat, mungkin hal-hal berikut menjadi hal penting untuk presiden masa depan Indonesia:
  1. Pemimpin mampu memahamai 4 pilar Kebangsaan dan menjalankan fungsinya (NKRI, UUD 1945, PANCASILA, BHINEKA TUNGGAL IKA) 
  2. Pemimpin harus tahu keadaan rakyat dari Sabang sampai Merauke.
  3. Pemimpin bukan Bos, tapi pemimpin adalah kondektur pembangunan.
  4. Pemimpin bukan penghimbau, tapi pemimpin adalah membuat tindakan dari permasalahan klasik Indonesia. 
  5. Indonensia mengalami krisis kejujuran dan krisis kepercayaan dari rakyat. Petinggi pemerintah dan pejabat harus menyelesaikan itu.
  6. Indonesia butuhpemimpin amanah dan jujur.
  7. Pemimpin yang tak takut miskin dan mati demi negaranya.
Indonesia memang akan sulit menemukan sosok pemimpin dari tujuh kriteria tadi. Rakyat menaruh harapan besar pada setiap pilihanannya. Di sisi lain, rakyat mulai apatis dan jenuh dengan politik yang hidup dipemerintahan ini. Pilihan hanya tinggal pilihan, harapan hanya tinggal harapan yang hanya tertulis dan kertas dan masuk gudang. Membenahi Indonnesia tidak mudah, tapi setidaknya calon-calon pemimpin itu harus sadar, dia bukan hanya penguasa, tapi dia adalah penanggung hidup sekian juta rakyat Indonesia.



Selasa, 13 Mei 2014

Perusakan Taman Bungkul dan Kepedulian Masyarakat pada Aset Lingkungan



Berita terbaru datang dari Surabaya,Wali kota Surabaya Ibu Tri Risma mendadak berkunjung di Taman Bungkul pada hari Minggu 11 Mei 2014. Kedatangannya bukanlah kunjungan yang terjadwal, tetapi dikarenakan pesta eskrim gratis yang diselenggarakan oleh salah satu pihak perusahaan eskrim yang ternama di Indonesia. Penyelanggraan acara ini dikatakan kurang koordinasi dengan pemerintah kota Surabaya menurut beberapa informan di media. Alhasil, taman yang mendapat penghargaan pada level dunia tersebut ludes, hancur dan tidak tampak lagi.
Sebenarnya banyak sisi yang menyebabkan peristiwa ini berujung pada rusaknya aset lingkungan hijau surabaya ini. Selain adanya ketidaksempurnaan dalam koordinasi acara dengan pemilihan tempatnya, juga kesadaran masyarakat sendiri tentang tanggungjawab untuk menjaga aset lingkungan kota tersebut. Kerugian memang besar untuk memperbaiki tanaman, membeli tanaman dan menunggu masa pertumbuhan tanamanuntukmenjadi rindang lagi. Hal ini juga menjadi pembelajaran pada pihak yang melaksanakanCSR untukmasyarakat, pemerintah dan masyarakat Surabaya tentunya untuk belajara tertib. Tertib dalam segala hal.
Selain masyarakat sadar akan budaya tanggungjawab dan tertib, adalah kesadaran mereka untuk menghargai aset lingkungan. Surabaya sebagai kota metropolitan, kota jasa dan industri besar masih memiliki tatanan kota yang hijau, penataan kota yang masih sejuk,pohon-pohon terwat, taman-taman indah yang menjadi ciri kota ini patut disadari masyarakat kalau semua ini butuh dirawat dan dijaga bersama-sama tidak hanya pemerintah surabaya dan petugas kebersihan tapi juga masyarakatnya. Berapa lama dan berapa banyak sumber daya yang digunakan untuk dapa mewujudkan surabaya seindah ini,baik materi maupun sumber daya manusia.
Budaya menghargai lingkungan, tertib dalam menjada aset kota sangat perlu ditingkatkan. Ini sebenarnya mudah dan sederhana, hanya saja masyarakat kurang mengerti fungsi dantujuan pembangunan tatakota yang hijau dan asri. Semoga ke depannya masalah yang sama tidak akan terjadi lagi dan Surabaya tetap menjadi kota hijau.